Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

HRDClub: Topik Laku: Apakah SDM di Indonesia dikembangkan

-

 

Since: 12 Sept 1998

 

-

Apakah SDM di Indonesia Benar-benar dikembangkan

Ibu Eileen Rachman , Direktur PT Experd pada pertemuan HRD Club tanggal 12 Februari 1999 membawa-kan topik "Apakah SDM di Indonesia benar-benar dikembangkan?

Pemilihan topik tersebut berangkat dari pengamatan beliau di berbagai perusahaan di Indonesia mengenai praktek pengembangan SDM, menunjukkan bahwa:

Masih banyak para manager yang tidak kompetitif.
 
Happiness individu tentang dirinya dan tentang pekerjaan tidak jelas
 
Habit menggunakan perangkat / alat-alat pengembangan SDM belum berkembang. Hal ini ditunjukkan dengan program-program yang secara terpaksa dilakukan (prioritas kedua) dan kurang ‘play the game’

Kondisi di atas nampak jelas terutama sebelum krisis moneter dimana ‘pasaran’ dalam negeri yang sangat ‘longgar’ sehingga kapasitas orang tidak terlalu perlu distress, dan jalur karir yang tak mengenal ‘down grading’, serta snioritas yang kental.

Adanya krisis moneter ini membuat ‘saleability’ kita menjadi menurun. Kenapa bisa terjadi?

Apakah selama ini divisi SDM sudah memposisikan diri di perusahaan dengan baik?
 
Apakah sistem HRD dibudidayakan sedemikian rupa sehingga populer dan dianggap sebagai alat pengembangan yang berguna?
 
Apakah ada upaya yang intensif untuk mengembangkan individu agar menjadi saleable?
 
Apakah ada upaya untuk menjaga individu yang saleable tersebut melalui daya tarik perusahaan ? (misalnya degan menjaga budaya perusahaan, hubungan antar manusia dan kualitas reward yang pantas)

Ke empat pertanyaan di atas kiranya dapat kita jadikan cermin dalam memulai langkah mengem-bangkan SDM di perusahaan. Selain empat faktor di atas perlu diperhatikan pula keterkaitan antara sistem, organisasi dan individu.

Setiap individu di dalam organisasi perlu ditanamkan suatu kesadaran mengembangkan diri untuk dapat dapat berkompetisi secara global. Untuk mewujudkan hal ini diperlukan upaya pembudayaan, konsistensi dan disertai leadership.

Leadership dalam memanajemeni SDM harus didasari oleh visi yang jelas dan dalam. Visi ini perlu dijabarkan ke dalam langkah / tindakan riil di setiap jajaran organi-sasi.

Sementara itu terhadap sistem yang diimplementasikan (rekrutmen, training, remunerasi, pengembang-an karir, dll) diperlukan kekerasan upaya, dan pembiasaan.

Dan sebagai konsekuensi dari meningkatnya kapabilitas tentunya perlu ditinjau aspek remunerasinya.

Namun demikian pengembangan SDM di perusahaan akan dapat berlangsung dengan sendirinya jika setiap individu bertanggungjawab terhadap pengembangan diri sendiri.