Apakah
SDM di Indonesia Benar-benar dikembangkan
Ibu
Eileen Rachman , Direktur PT Experd pada pertemuan HRD
Club tanggal 12 Februari 1999 membawa-kan topik "Apakah
SDM di Indonesia benar-benar dikembangkan?
Pemilihan
topik tersebut berangkat dari pengamatan beliau di
berbagai perusahaan di Indonesia mengenai praktek
pengembangan SDM, menunjukkan bahwa:
- Masih banyak
para manager yang tidak kompetitif.
-
- Happiness
individu tentang dirinya dan tentang pekerjaan
tidak jelas
-
- Habit
menggunakan perangkat / alat-alat pengembangan SDM
belum berkembang. Hal ini ditunjukkan dengan
program-program yang secara terpaksa dilakukan (prioritas
kedua) dan kurang ‘play the game’
Kondisi
di atas nampak jelas terutama sebelum krisis moneter
dimana ‘pasaran’ dalam negeri yang sangat ‘longgar’
sehingga kapasitas orang tidak terlalu perlu distress,
dan jalur karir yang tak mengenal ‘down grading’,
serta snioritas yang kental.
Adanya
krisis moneter ini membuat ‘saleability’ kita
menjadi menurun. Kenapa bisa terjadi?
- Apakah selama
ini divisi SDM sudah memposisikan diri di
perusahaan dengan baik?
-
- Apakah sistem
HRD dibudidayakan sedemikian rupa sehingga populer
dan dianggap sebagai alat pengembangan yang
berguna?
-
- Apakah ada
upaya yang intensif untuk mengembangkan individu
agar menjadi saleable?
-
- Apakah ada
upaya untuk menjaga individu yang saleable
tersebut melalui daya tarik perusahaan ? (misalnya
degan menjaga budaya perusahaan, hubungan antar
manusia dan kualitas reward yang pantas)
Ke
empat pertanyaan di atas kiranya dapat kita jadikan
cermin dalam memulai langkah mengem-bangkan SDM di
perusahaan. Selain empat faktor di atas perlu
diperhatikan pula keterkaitan antara sistem,
organisasi dan individu.
Setiap
individu di dalam organisasi perlu ditanamkan suatu
kesadaran mengembangkan diri untuk dapat dapat
berkompetisi secara global. Untuk mewujudkan hal ini
diperlukan upaya pembudayaan, konsistensi dan disertai
leadership.
Leadership
dalam memanajemeni SDM harus didasari oleh visi yang
jelas dan dalam. Visi ini perlu dijabarkan ke dalam
langkah / tindakan riil di setiap jajaran organi-sasi.
Sementara
itu terhadap sistem yang diimplementasikan (rekrutmen,
training, remunerasi, pengembang-an karir, dll)
diperlukan kekerasan upaya, dan pembiasaan.
Dan
sebagai konsekuensi dari meningkatnya kapabilitas
tentunya perlu ditinjau aspek remunerasinya.
Namun
demikian pengembangan SDM di perusahaan akan dapat
berlangsung dengan sendirinya jika setiap individu
bertanggungjawab terhadap pengembangan diri sendiri.
|