Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

HRDClub: Topik Laku: Pengembangan SDM Pasca Restrukturisasi di PT Timah

-

 

Since: 12 Sept 1998

 

-

Sharing Pengalaman Penerapan Competency Based HR

Menanggapai masukan peserta tentang bahasan topik kompetensi,  pertemuan 9 Maret 2001, HRD Club   kembali membahas topik Competency Based HR dengan menghadirkan  praktisi yang telah menerapkan konsep ini.

Topik dengan judul “Sharing Pengalaman Penerapan Competen-cy Based HRdibawakan oleh PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) yang diwakili oleh Bpk Mohammad Hatta dan PT Schneider Electric yang diwakili oleh Bpk Bpk Tommy H. Pratomo.

Pengalaman PT Bukit Asam (PTBA)

Di PTBA, Kompetensi diartikan sebagai “pengetahuan,  ketrampilan, dan karakteristik pribadi (attributes) yang sangat penting untuk mencapai keberhasilan suatu pekerjaan”. Kompetensi ini merupakan basis dari berbagai aspek pengelolaan SDM, seperti Kebijakan Organisasional (pe-nempatan, promosi, rotasi), Rekrut-men, Kompensasi dan Pengembang-an(training, manajemen karir, rencana suksesi). 

Latar belakang PT. BA menerapkan Model Kompetensi ini antara lain mengingat pola pengembangan SDM yang belum terintegrasi, belum adanya persyaratan standar untuk menempati suatu posisi, serta penentuan pelatihan bagi pegawai belum sistematis. Pada tahap awalnya, aplikasi Kompetensi di PT. BA terutama diprioritaskan untuk program pengembangan dahulu

Setiap perusahaan perlu mengem-bangkan apa yang dinamakan Model Kompetensi, yaitu suatu referensi  yang disusun secara sistematis untuk pedoman pengelolaan sumber daya manusia.   PT. BA mengklasifikasikan kompetensi menjadi 4 kelompok: kompetensi  Inti, kompetensi Manaje-rial, kompetensi teknis dan kompetensi Pribadi.

Kompetensi inti adalah pemahaman terhadap visi, misi dan nilai-nilai perusahaan seperti: kerjasama Tim, orientasi kepuasan pelanggan.

Kompetensi manajerial adalah kemampuan untuk mengelola sumber daya dan mengatur pelaksanaan tugas, seperti: pemecahan masalah dan pengambilan keputusan, kepemimpinan, dll.

Kompetensi teknis adalah pengetahuan dan ketrampilan yang sangat spesifik dan berhubungan erat dengan jenis pekerjaan seperti perencanaan tambang, analisis finansial, aplikasi komputer, dll

Kompetensi pribadi adalah karakteristik bawaan seseorang yang dibutuhkan di lingkungan kerja, yang berpotensi mempengaruhi sikap dan kinerjanya seperti inisiatif, berfikir analisis.

Teknis pelaksanaan Model kompeten-si ini dijabarkan dalam  Katalog Kompetensi, Profil Jabatan, dan Profil Pegawai. Berdasarkan pengalaman PTBA, yang membutuhkan waktu adalah penyusunan Profil Jabatan dan Profil Pegawai.  Untuk menghasikan Profil Pegawai (profil individu), digunakan Metode Uji Kompetensi melalui assessmen 3600 derajat (oleh atasan, bawahan , rekan selevel, dan pelanggan) dan Wawancara Perilaku.

Kedua metode tersebut umumnya digunakan untuk level yang tinggi sedangkan level yang lebih rendah  assessmen dilakukan oleh atasan saja.

Dengan semakin banyaknya jumlah karyawan maka untuk memelihara database kompetensi harus ditunjang dengan aplikasi sistem informasi SDM yang terintegrasi(komputerisasi).

Proses penyusunan Sistemnya sendiri di PTBA , dimulai dengan pembentukan Tim Penyusun, yang anggotanya  terdiri dari tujuh orang. Tim ini kemudian mengadakan sosialisasi ke seluruh perusahaan, termasuk mengadakan sejumlah workshop untuk sosialisasi tentang Kompetensi, dan membentuk Expert Group, dimana setiap departemen mempunyai perwakilan di dalamnya.

Beberapa kendala yang perlu diperhatikan dalam implementasi model kompetensi ini antara lain dibutuhkannya waktu, resources, serta perlunya standarisasi kompe-tensi untuk pekerjaan yang hampir sama di beberapa depertemen.

Pengalaman PT Schneider Electric

Di PT Schnedier Electric, penerapan model kompetensi didasari pertimbangan diperlukannya alat ukur untuk membedakan kompetensi serta karena kurang efektifnya training & pengembangan karyawan.

Model kompetensi yang digunakan di PTSE diadopsi dari Skill Development Centre ini membedakan kompetensi ke dalam dua jenis, yaitu inter-functional & functional competencies. Tingkat kompetensi masing-masing untuk setiap jenis kompetensi tersebut dipilah lagi menjadi 4 level:

o         Level 1: Aware

o         Level 2: Able

o         Level 3: Adapt

o         Level 4: Accomplish

 

Proses implementasi Model kompetensi di PTSE diawali dengan kondisioning, minta dukungan dari zone, training kepada HRD & para Manager, penyusunan  interfunc-tional competency, dan dilanjutkan dengan penyusunan functional com-petency oleh masing-masing depar-temen, serta penyusunan formulir untuk teknis pelaksanaannnya.

 

Model kompetensi di PT SE ini juga diintegrasikan dengan penilaian ki-nerja tahunan dan dijadikan dasar untuk menyusun program pengem-bangan.

 

Bpk Tommy mengingatkan bahwa dalam penerapan model kompetensi ini perlu diantisipasi kemungkinan hambatan, dimana beberapa diantaranya adalah:

o      Butuh  waktu lama

o      Butuh pemahaman oleh para Manager

o      Manager enggan melaksanakan karena merasa tak butuh

o      Terlalu rinci dan sulit untuk dilaksanakan

o      Karyawan mengira ada kaitannya dengan sistem penggajian & hierarki kepangkatan.

Untuk mengatasi hal tersebut, disarankan agar proses persiapan dilakukan secara matang seperti pembekalan (training) dilakukan secara mantap. Disarankan juga agar  pada tahap permulaan, model ini diterapkan untuk posisi-posisi tertentu baru kemudian dikembangkan ke posisi lainnya. Implementasinya perlu dimonitor untuk mengantisipasi penyimpangan-penyimpangan yang mungkin timbul.