Sharing
Pengalaman Penerapan Competency Based HR
Menanggapai
masukan peserta tentang bahasan topik kompetensi,
pertemuan 9 Maret 2001, HRD Club
kembali membahas topik Competency Based HR
dengan menghadirkan
praktisi yang telah menerapkan konsep ini.
Topik
dengan judul
“Sharing Pengalaman Penerapan Competen-cy
Based HR” dibawakan oleh PT Tambang
Batubara Bukit Asam (PTBA) yang diwakili oleh Bpk
Mohammad Hatta dan PT Schneider Electric yang diwakili
oleh Bpk Bpk Tommy H. Pratomo.
Pengalaman
PT Bukit Asam (PTBA)
Di
PTBA, Kompetensi diartikan sebagai “pengetahuan, ketrampilan, dan karakteristik pribadi (attributes) yang
sangat penting untuk mencapai keberhasilan suatu
pekerjaan”. Kompetensi ini merupakan basis dari
berbagai aspek pengelolaan SDM, seperti Kebijakan
Organisasional (pe-nempatan, promosi, rotasi), Rekrut-men,
Kompensasi dan Pengembang-an(training, manajemen karir,
rencana suksesi).
Latar
belakang PT. BA menerapkan Model Kompetensi ini antara
lain mengingat pola pengembangan SDM yang belum
terintegrasi, belum adanya persyaratan standar untuk
menempati suatu posisi, serta penentuan pelatihan bagi
pegawai belum sistematis. Pada tahap awalnya, aplikasi
Kompetensi di PT. BA terutama diprioritaskan untuk
program pengembangan dahulu
Setiap
perusahaan perlu mengem-bangkan apa yang dinamakan Model
Kompetensi, yaitu suatu referensi
yang disusun secara sistematis untuk pedoman
pengelolaan sumber daya manusia.
PT. BA mengklasifikasikan kompetensi menjadi 4
kelompok: kompetensi
Inti, kompetensi Manaje-rial, kompetensi teknis
dan kompetensi Pribadi.
Kompetensi
inti adalah pemahaman terhadap visi, misi dan
nilai-nilai perusahaan seperti: kerjasama Tim,
orientasi kepuasan pelanggan.
Kompetensi
manajerial adalah kemampuan untuk mengelola sumber
daya dan mengatur pelaksanaan tugas, seperti:
pemecahan masalah dan pengambilan keputusan,
kepemimpinan, dll.
Kompetensi
teknis adalah pengetahuan dan ketrampilan yang
sangat spesifik dan berhubungan erat dengan jenis
pekerjaan seperti perencanaan tambang, analisis
finansial, aplikasi komputer, dll
Kompetensi
pribadi adalah karakteristik bawaan seseorang yang
dibutuhkan di lingkungan kerja, yang berpotensi
mempengaruhi sikap dan kinerjanya seperti inisiatif,
berfikir analisis.
Teknis
pelaksanaan Model kompeten-si ini dijabarkan dalam Katalog Kompetensi, Profil Jabatan, dan Profil Pegawai.
Berdasarkan pengalaman PTBA, yang membutuhkan waktu
adalah penyusunan Profil Jabatan dan Profil Pegawai.
Untuk menghasikan Profil Pegawai (profil
individu), digunakan Metode Uji Kompetensi melalui
assessmen 3600 derajat (oleh atasan,
bawahan , rekan selevel, dan pelanggan) dan Wawancara
Perilaku.
Kedua
metode tersebut umumnya digunakan untuk level yang
tinggi sedangkan level yang lebih rendah
assessmen dilakukan oleh atasan saja.
Dengan
semakin banyaknya jumlah karyawan maka untuk
memelihara database kompetensi harus ditunjang dengan
aplikasi sistem informasi SDM yang
terintegrasi(komputerisasi).
Proses
penyusunan Sistemnya sendiri di PTBA , dimulai dengan
pembentukan Tim Penyusun, yang anggotanya
terdiri dari tujuh orang. Tim ini kemudian
mengadakan sosialisasi ke seluruh perusahaan, termasuk
mengadakan sejumlah workshop untuk sosialisasi tentang
Kompetensi, dan membentuk Expert Group, dimana setiap
departemen mempunyai perwakilan di dalamnya.
Beberapa
kendala yang perlu diperhatikan dalam implementasi
model kompetensi ini antara lain dibutuhkannya waktu,
resources, serta perlunya standarisasi kompe-tensi
untuk pekerjaan yang hampir sama di beberapa
depertemen.
Pengalaman
PT Schneider Electric
Di
PT Schnedier Electric, penerapan model kompetensi
didasari pertimbangan diperlukannya alat ukur untuk
membedakan kompetensi serta karena kurang efektifnya
training & pengembangan karyawan.
Model
kompetensi yang digunakan di PTSE diadopsi dari Skill
Development Centre ini membedakan kompetensi ke dalam
dua jenis, yaitu inter-functional & functional
competencies. Tingkat kompetensi masing-masing untuk
setiap jenis kompetensi tersebut dipilah lagi menjadi
4 level:
o
Level 1: Aware
o
Level 2: Able
o
Level 3: Adapt
o
Level 4: Accomplish
Proses
implementasi Model kompetensi di PTSE diawali dengan
kondisioning, minta dukungan dari zone, training
kepada HRD & para Manager, penyusunan interfunc-tional competency, dan dilanjutkan dengan
penyusunan functional com-petency oleh masing-masing
depar-temen, serta penyusunan formulir untuk teknis
pelaksanaannnya.
Model
kompetensi di PT SE ini juga diintegrasikan dengan
penilaian ki-nerja tahunan dan dijadikan dasar untuk
menyusun program pengem-bangan.
Bpk
Tommy mengingatkan bahwa dalam penerapan model
kompetensi ini perlu diantisipasi kemungkinan hambatan,
dimana beberapa diantaranya adalah:
o
Butuh
waktu lama
o
Butuh pemahaman oleh para Manager
o
Manager enggan melaksanakan karena
merasa tak butuh
o
Terlalu rinci dan sulit untuk
dilaksanakan
o
Karyawan mengira ada kaitannya dengan
sistem penggajian & hierarki kepangkatan.
Untuk
mengatasi hal tersebut, disarankan agar proses
persiapan dilakukan secara matang seperti pembekalan
(training) dilakukan secara mantap. Disarankan juga
agar pada
tahap permulaan, model ini diterapkan untuk
posisi-posisi tertentu baru kemudian dikembangkan ke
posisi lainnya. Implementasinya perlu dimonitor untuk
mengantisipasi penyimpangan-penyimpangan yang mungkin
timbul.
|