Kiat
Mengatasi Stress Dalam Situasi Krismon
Pertemuan lalu
dilaksanakan tanggal 28 Agustus 1998 di Jakarta Design
Center dengan pembicara Bapak Santono Mukadis,
psikolog yang sering muncul di televisi dengan ucapan
khasnya : " putus asa ….jangan !.
Topik yang
sebelumnya akan disampaikan beliau adalah " Kiat
mengatasi stress dalam situasi Krismon". Namun
pada awal ……………………bahwa situasi yang
kita alami dalam waktu setahun lebih ini sudah bukan
waktu situasi krisis lagi, kita tak perlu berlarut -
larut dengan situasi ini dan sebaiknya kita mulai
mengkonsentrasikan upaya kita lebih kedepan yakni
menghadapi pasca krisis.
Tentunya dengan
perubahan topik tersebut, di saat yang sudah tak
mungkin diinformasikan kembali kepada peserta lain,
mengundang kekecewaan beberapa anggota HRD Club yang
tak hadir.
Namun demikian,
kami mencoba menyarikan hal - hal yang telah
disampaikan oleh Bapak Sartono Mukadis kepada 107
eksekutif HRD yang hadir pada pertemuan tersebut, yang
kemudian kami beri judul : "Kesiapan menghadapi
pacsa krisis".
Menurut beliau,
keadaan yang dialami negara kita dewasa ini tidak ada
padanya di dunia. Semakin banyak kasus PHK yang
terjadi. Kalau kemarin kita masih dapat cerita "dia"
yang di-PHK, maka sekarang cerita sudah berubah mejadi
"kamu" dan besak mungkin saya.
Pesan yang ingin
beliau sampaikan kepada kita adalah agar kita jangan
mengabaikan adanya kemungkinan tersebut dapat terjadi
pada kita. Dengan mengantisifasi hal terburuk tersebut,
kita harusnya dapat mempersiapkan diri melalui langkah
- langkah apa yang perlu kita lakukan.
Situasi Krismon
saat ini membuat sebagian di antara kita secara
otomatis melakukan penghematan di segala bidang
seperti training, atau program pengembangan lainnya,
bahkan mem-PHK-kan karyawan kita yang potensial.
Jika keadaan ini
kita biarkan terus berlarut - larut maka kompentensi
kita semakin menurun, sehingga pada saat kondisi
ekonomi membaik kita dapat memiliki sumber daya yang ubdate,
kita dapat menjawab tantangan persaingan bisnis yang
semakin meningkat, yaitu era pasar bebas, dan peluang
pun lepas dari tangan kita.
Contoh yang
paling jelas adalah sebagian pasar dunia mulai
menuntut pemasoknya untuk menerapkan sistem manajemen
ISO 9000. Namun dengan alasan krismon, maka perusahaan
memutuskan bahwa program ISO 9000 ditunda dulu.
Tidakkah Anda menyesal jika krismon berakhir dan
perusahaan belum ber-ISO, sehingga Anda tidak mendapat
proyek gara - gara belum ber-ISO.
Tentunya contoh
di atas dapat dianatologikan dengan tindakan -
tindakan lain yang seharusnya kita lakukan pada saat
krismon ini, untuk menghadapi tuntutan persaingan
bisnis mendatang. tentunya dengan cara yang efisien.
Dalam
mengantisipasi persaingan bisnis mendatang, sekarang
adalah saat yang tepat bagi kita, para eksekutif HRD,
untuk melakukan transformasi budaya.
Budaya apa
sajakah yang perlu ditransformasi ?
- Dari Open
Bureaucary menuju Entrepreunership.
- Dari High
Personal Fulfilment menuju High Personal
Fulfilment.
- Dari Moderate
Teamwork menuju High Tearmwork.
- Dari Strong
Loyaity menuju Strong Loyaity.
- Dari Clean
& Hardworking menuju Clean & &
Hardworking.
- Dari Top Down
Decision Making menuju Combined Decision Making.
- Dari Inward
Looking menuju Outward Looking.
- Dari Low
Timelines menuju High Urgency.
- Dari Avoid
Confict menuju Constructive Resolution.
- Dari Lack
Quality Definition menuju Quality Definition /
Standard.
- Dari
Moderately Important Customers menuju Pre
Eminently Important Customers.
Bagaimana proses
tranformasi budaya - budaya tersebut ? Beberapa
aktivitas program yang dapat disarankan antara lain :
- Team
Building.
- Customers
Services.
- Attitude
Change.
- Service Index
Appraise.
- Timelines
Appraisal.
- Top Down
Disseminent.
- Team
Participation
|